![]() |
| R A Kartini. Pinterest/Liputan6.com |
Pada setiap tanggal 21 April semua pelajar baik dari tingkat
dasar sampai tingkat atas pasti tidak akan asing dengan memperingati hari besar
nasional salah satu tokoh besar perempuan di Indonesia, yakni Raden Ajeng (R.A)
Kartini. Beliau merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan kebebasan
perempuan dari wilayah domestik ke publik. Bukan hanya sekedar tokoh emansipasi tetapi juga sebagai pelopor kesadaran
akan pentingnya literasi bagi kaum perempuan.
Melalui
perjuangannya R.A. Kartini terus menjalin komunikasi dengan teman-temannya di
Belanda melalui surat-surat dan dibukukan dengan judul "Door Duisternis
Tot Licht" Habis Gelap Terbitlah Terang, yang menggambarkan perjuangan
beliau dalam memajukan literasi dan kesadaran kebangsaan.
Bahkan Al-Qur'an
sendiri menjelaskan bagaimana pentingnya membaca dan menulis sebagaimana firman
Allah Swt:
اِÙ‚ْرَØ£ْ بِاسْÙ…ِ رَبِّÙƒَ الَّذِÙŠْ
Ø®َÙ„َÙ‚َۚ Ø®َÙ„َÙ‚َ الْاِÙ†ْسَانَ Ù…ِÙ†ْ
عَÙ„َÙ‚ٍۚ اِÙ‚ْرَØ£ْ ÙˆَرَبُّÙƒَ الْاَÙƒْرَÙ…ُۙ الَّذِÙŠْ عَÙ„َّÙ…َ بِالْÙ‚َÙ„َÙ…ِۙ عَÙ„َّÙ…َ الْاِÙ†ْسَانَ Ù…َا Ù„َÙ…ْ ÙŠَعْÙ„َÙ…ْۗ "Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia)
dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Karena itu, mari
bedah QS. Al-'Alaq ayat 1-5 melalui
pandangan para Ulama tafsir, agar tradisi memperingati hari Kartini bukan
sekedar ceremony belaka melainkan menjadi ajang tadabbur bersama yang mana
memiliki nilai-nilai Quran di dalamnya, seperti perintah membaca, belajar, dan
menulis.
Keharusan dalam
membaca dan belajar
M. Quraish Shihab
dalam Tafsir al-Misbah menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kata Iqra' pada
ayat 1 adalah membaca dan menghimpun, maka membaca dalam konteks ayat tersebut
ialah bentuk dari perintah yang tidak mengharuskan adanya suatu teks sebagai objek
bacaan. Melainkan berbagai objek dalam kehidupan.
Kemudian
Fakhruddin al-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghayib menerangkan bahwa perintah
membaca diulang sebanyak dua kali (ayat 1 dan 3) yang mana ayat pertama itu
menekankan kepada belajar (at-ta'allum) sedangkan ayat ketiga adalah untuk
mengajarkan (at-ta'lim) ini menunjukkan literasi yang sempurna di mana
memperlihatkan akan sebuah input dan output.
Kedua Mufassir di
atas memberikan gambaran bahwa pada fase
awal kenabian saja Nabi Muhammad diperintahkan untuk membaca (belajar) dan
mengajar.
Pentingnya
menulis bagi tradisi literasi
Pada ayat ke-4
terdapat kata "Al-Qalam" (pena), ini menunjukkan salah satu alat yang
digunakkan dalam menulis.
Para ulama sering
mengutip prinsip bahwa "ilmu itu ibarat hewan buruan, dan tulisan adalah
ikatannya". Imam al-Qurtubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menekankan
bahwa jika bukan karena tulisan, maka ilmu-ilmu terdahulu akan musnah,
jejak-jejak sejarah akan terhapus, dan agama tidak akan memiliki pijakan yang
kokoh.
Fakhruddin
al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb menjelaskan bahwa manusia memiliki dua alat
komunikasi yakni lisan untuk mereka yang hadir secara fisik, dan pena untuk
mereka yang jauh secara jarak maupun waktu.
Pandangan para
ulama tafsir ini selaras dengan upaya yang dilakukan oleh R. A. Kartini yang
mana beliau memperjuangkan kesadaran bangsa mulai dari menulis hingga
menuangkannya dalam pendidikan. |
Penulis: Try Cakra Prawira | Editor: Nafilatul Barkah

COMMENTS