Jabatan; Sesuatu Yang Diperebutkan

Thobit Muhammad 'Urfa Saat sambutan ketika menjabat Ketua HMJ IQTAF

Jabatan; Sesuatu Yang Diperebutkan
Oleh: Thobit Muhammad 'Urfa

“Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dibela mati-matian”. Tentu kita pernah mendengar atau membaca ungkapan tersebut . ya ungkapan itu adalah sebuah ungkapan yang diucapkan oleh Guru Bangsa KH Abdurahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Dur. Jika kita pikir-pikir kembali memang benar sih, tidak ada jabatan yang harus dibela mati-matian. Jabatan hanya sekedar jabatan, karena sejatinya jabatan adalah sebuah amanah yang diberikan oleh tuhan kepada seorang insan, apabila jabatan kita artikan sebagai bentuk amanah maka akan lahir sebuah tanggung jawab dalam diri tanpa harus jadi bahan kesombongan.

Namun bagi segelintir orang, jabatan menjadi suatu daya tarik yang harus dimiliki dan diperjuangkan mati-matian, tidak hanya jabatan tingkat presiden, bahkan jabatan tingkat kampus pun jabatan selalu menjadi rebutan oleh orang-orang yang ingin menunjukkan eksitensi dirinya. Menurut penulis sendiri menunjukkan eksitensi diri tentu boleh-boleh saja , jikalau memang diri kita mempunyai kapasitas dan ektabilitas sehingga bisa menunjang eksitensi diri kita ketika sedang memerjuangkan sebuah jabatan yang ingin kita raih. Namun satu hal yang harus kita sadari bahwa tak ada jabatan yang harus kita bela mati-matian karena pada hakikatnya jabatan adalah sebuah alat untuk pengabdian.

Menurut penulis sendiri, jabatan adalah sebuah alat kita untuk melakukan sebuah pengabdian, karena ketika jabatan kita anggap sebagai sebuah alat untuk pengabdian maka ketika kita menjalani jabatan itu, kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Kita tidak lagi memikirkan apa yang kita dapat dari jabatan yang sedang kita pegang, akan tetapi yang ada di dalam pikiran kita adalah apa yang dapat kita berikan ketika kita sedang memangku sebuah jabatan.

Jikalau kita menganggap jabatan adalah sebuah alat untuk pengabdian, maka akan lahir sebuah sikap totalitas dan loyalitas terhadap jabatan yang kita emban. Mungkin hal seperti ini sedikit idealis, karena bagi sebagian orang ini naif, untuk menjadi ikhlas itu sulit. Berbuat atas nama sebuah pengabdian tanpa adanya penghargaan adalah omong kosong belaka. Akan tetapi jika kita sudah benar-benar melaksanakan sebuah pengabdian dengan totalitas dan loyalitas, cepat atau lambat pasti akan timbul sebuah penghargaan. Entah itu penghargaan yang bernilai materi atau pun non materi seperti sebuah penghormatan.

Pada hakikatnya jabatan hanyalah sebuah titipan. Titipan sendiri memiliki durasi jangka waktu, kapan titipan itu diberi dan kapan saatnya titipan tersebut diambil. Karena memang hanya sebuat titipan. Begitu pula dengan jabatan. Jabatan hanyalah sebuah titipan yang Allah berikan kepada kita. Allah yang memberikan kita jabatan, Allah pula lah yang mengambil jabatan yang sudah Allah beri kepada kita.

Dalam menyikapi sebuah jabatan yang terpenting adalah bagaimana sikap diri kita ketika jabatan yang Allah berikan itu dapat kita manfaatkan dan tidak membuat kita menjadi lupa daratan apalagi sebagai alat untuk saling sombong-menyombongkan. Apabila sebuah jabatan kita anggap sebagai suatu titipan maka ketika waktunya jabatan itu pergi kita mengikhlaskannya seraya berkata Jabatan dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Mudah mudahan dengan membaca tulisan ini, kita dapat menyadari bahwa tidak ada jabatan yang harus dibela mati- matian, karena jabatan hanyalah sebuah titipan, jabatan adalah alat kita untuk melakukan sebuah pengabdian. toh jikalau kita sudah mengabdi pasti ada saja kok yang memberikan kita sebuah penghargaan, sebab apa saja yang kita lakukan senantiasa ada yang melihat dan ada pula balasannya sebagaimana firman Allah SWT
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya : Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".

Yakinlah apa yang kita lakukan, apa yang kita abdikan akan dilihat oleh Allah, Rasulullah dan orang-orang mu’min. serta Allah akan memberitakan kepada kamu atas apa yang telah kamu kerjakan. Gusti Allah boten sare jare wong jawae.

*Penulis adalah Alumni Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Peraih nilai Cumlaude itu juga merupakan Ketua HMJ IQTAF Periode 2017-2018. Produktif berkarya, salah satunya buku dengan judul "Memantaskan Hari, Meraih Cinta Ilahi.

Previous Post Next Post