Dalam kehidupan Muslim, hampir tidak ada sekat waktu kecuali di dalamnya terdapat tradisi pembacaan (reading) al-Qur'an yang dinyanyikan oleh pemeluknya secara istikamah. Misal, setiap malam Jumat atau hari Jumat (penulis sebut MJ-HJ), hampir seluruh umat Islam melakukan tradisi pembacaan surah Al-Kahfi. Berjalannya aktivitas tersebut, tidak lepas dengan adanya informasi sekaligus doktrinasi dari hadis-hadis nubuwwah berversi keutamaan surah-surah al-Qur'an (Fadha'il al-Qur'an).
Dengan demikian, penulis terinspirasi untuk memotret kembali terhadap hadis keutamaan (baca: keistimewaan) membaca 10 ayat permulaan dan terakhir QS. Al-Kahfi, kemudian sedikit mengulas profil QS. Al-Kahfi, terakhir akan berparkir pada analisa kandungan hadis keutamaan QS. Al-Kahfi dengan isi pesan 10 awal dan 10 akhir dari surah tersebut, dengan asumsi apakah hadis-hadis yang memberikan doktrinasi demikian (keutamaan membaca QS. Al-Kahfi) sejalan dengan pesannya atau sebaliknya (tidak sejalan).
Profil Surah Al-Kahfi
Penyematan kisah-kisah dalam surah ini, menurut M. ‘Abid al-Jabiri (1935-2010 M) bukan mengindikasikan bahwa verbum dei (al-Qur’an) sebagai kitab sejarah atau kisah (kitab al-tarikh/al-qashash), melainkan kitab dakwah keagamaan (kitab al-da’wah al-din) yang berfungsi sebagai mediator untuk mencapai tujuan (maqhasid) dakwah serta bertujuan demi memberikan ‘ibrah (pelajaran) kepada para audiensnya (pengiman/non-pengiman). (lihat, Wardatun Nadhiroh, Fahm al-Qur’an al-Hakim; Tafsir Kronologis Ala Muhammad Abid Al-Jabiri, 2016, hlm. 16-17)
Selain itu, posisi QS. Al-Kahfi jika dipotret dengan pola tartib mushafi berada pada urutan ke-18 dan masuk dalam tataran Makkiyyah (yang turun pra-hijrah) yang memuat 110 ayat. Apabila dilihat dari sisi kronologis al-Qur'an ala al-Jabiri, ia menempati urutan ke-70 sesudah QS. al-Insan (no.69) dan setelah QS. An-Nahl (no.71) kategori Makkiyyah 2 episode 6 (tentang pasca-pengepungan: menjalin koalisi dengan kabilah-kabilah, dan persiapan hijrah ke Habasyah). (Lihat, Prof. Aksin Wijaya, Sejarah Kenabian, 2022, hlm. 39-45)
Sedangkan menurut aransemen kronologis Theodore Noldeke (1836-1930 M) dan Regis Blachere (1900-1973 M) ada di urutan ke-69 (pra-QS. As-Sajdah dan pasca-QS. An-Naml) kategori Makkiyyah tahap ke-2. Lain halnya dengan bapak moyangnya yaitu Gustav Weil (1808-1889 M) yang menempatinya pada periode Makkiyyah tahap ke-3 di barisan ke-84 (sebelum QS. An-Nahl dan sesudah QS. Al-Ahqaf). (detailnya lihat, Mohamad Yahya, Aransemen Tartib Nuzul Al-Qur’an Perspektif Theodore Noldeke (1836-1930 M), 2015, hlm. 39-43)
Hadis Keutamaan Membaca QS. Al-Kahfi
Di antara bunyi hadis terkait keutamaan membaca surah Al-Kahfi (baik 10 ayat permulaannya maupun akhirnya, ataupun keutamaannya secara utuh), berikut hadis yang menjelaskan keutamaan membaca 10 ayat permulaan QS. Al-Kahfi:
عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ. رواه مسلم وأبو داود والنسائي والترمذي
Artinya: "Dari Abu Darda’, bahwasannya Nabi saw. bersabda, “Barang siapa hafal sepuluh ayat pertama dari surah Al-Kahf maka ia akan dijaga/dilindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim, Abu Daud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)
Sementara hadis yang menyatakan keistimewaan membaca 10 terakhir dari surah tersebut, sebagai berikut:
وأخرج أحمد، ومسلم، والنسائي، وابن حبان، عن أبي الدرداء قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من قرأ العشر الأواخر من سورة الكهف، عصم من فتنة الدجال".
Artinya: "Barang siapa yang membaca 10 ayat terakhir dari surah Al-Kahfi, maka akan terhindar dari hasutan Dajjal." (HR. Ahmad, Muslim, an-Nasa’i, dan Ibn Hibban)
Analisa 10 Ayat Permulaan dan Terakhir QS. Al-Kahfi
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, pada tahap ini penulis mencoba mengurai pesan-pesan dari 10 awal dan akhir surah Al-Kahfi guna menemukan korelasi antara kandungan hadis di muka dengan surah tersebut. Berikut jelasnya:
- Ayat 1-3: menjelaskan tentang Ilahiah (keterpujian Tuhan), fungsi Al-Qur'an, dan bisyarah (kabar gembira) bagi pemeluknya.
- Ayat 4-5: sebagai wujud respons terhadap sistem ketuhanan menurut kerangka pikir Yahudi-Nasrani (Y-N).
- Ayat 6: menjelaskan kegalauan Nabi atas perbuatan para oposisinya sekaligus peneguhan kepada Nabi atas proses misi dakwahnya.
- Ayat 7: ujian terhadap umat manusia akan keindahan dunia (zinat al-hayat al-dunya)
- Ayat 8: berisi teguran sekaligus ancaman bagi para oposisi kenabian.
- Ayat 9-10: memberitakan permulaan dimulainya perbincangan kisah AK (Ashab Al-Kahfi) dalam al-Qur'an.
Setelah penulis melakukan pemetaan terhadap isi singkat 10 ayat pada awal surah al-Kahfi dengan merujuk pada penafsiran Qur’an Kemenag (Kementrian Agama), tidak nampak hubungan secara tersurat akan kandungan 10 ayat tersebut dengan isi dari hadis di muka. Oleh karena itu, penulis berharap pembacaan ini bisa dikembangkan lagi oleh para pembaca supaya bisa menemukan titik hubung antara doktrin membaca 10 ayat pertama/terakhir QS. Al-Kahfi dengan hadis-hadis yang berkaitan dengannya.
- Ayat 99-102 : tentang esktalogis, membicarakan orang-orang Kafir, dan karakternya.
- Ayat 103 : dialog Nabi Muhammad dengan para oposisinya (ahl al-kitab) perihal orang yang paling merugi.
- Ayat 104-106 : sebagai jawaban atas ayat 103, dan konsekuensi yang menimpa mereka (ahl al-kitab).
- Ayat 107-108 : menceritakan kemenangan bagi para pengiman-Nya (Allah & Rasul-Nya) di Hari Akhir.
- Ayat 109 : penegasan kepada para oposisi kenabian (ahl al-kitab) bahwa mereka tidak akan mampu meramu ilmu ketuhanan.
- Ayat 110 : perkenalan diri Nabi dihadapan para oposisinya, sekaligus resep sukses bagi mereka yang ingin sukses di hari kemudian.
Pemetaan ini penulis bertumpu pada penafsiran QK (Al-Qur’an Kemenag) yang kemudian disimpulkan (ditarik benang merahnya) sebagaimana tertera di muka. Alhasil, kesimpulan yang penulis dapatkan setelah memeriksa kembali satuan ayat dari 10 awal dan akhir QS. Al-Kahfi secara munasabah, dirasa belum begitu memiliki hubungan yang intens (serius) dengan hadis-hadis yang menyatakan kemuliaannya.
Hal ini terjadi, dimungkinkan ketidaktahuan penulis sendiri untuk menjebol dan mengkoneksikan kandungan hadis di muka dengan pesan-pesan surahnya. Timbul pertanyaan, di manakah letak korelasi antara doktrinasi hadis keutamaan membaca 10 awal/akhir QS. Al-Kahfi dengan pesan surahnya. Kemudian, bagaimana cara untuk menghubungkannya agar menjadi kesatuan terpadu yang begitu kuat tanpa penyekat. Wa allah a’lam bi ash-shawab.
COMMENTS