![]() |
| Padang Arafah. Pinterest/R's Studio |
Kadang hidup bikin kita capek tanpa alasan yang benar-benar bisa dijelaskan.
Hari berjalan seperti biasa, kuliah tetap dijalani, tugas tetap dikerjakan, ngobrol dan ketawa dengan teman juga masih bisa. Tapi entah kenapa, hati rasanya kosong. Ada lelah yang tidak terlihat, ada banyak pikiran yang dipendam sendiri, dan ada doa-doa yang bahkan sulit diucapkan.
Di tengah semua itu, Hari Arafah selalu datang dengan rasa yang berbeda.
Hari Arafah adalah tanggal 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Iduladha. Hari yang sangat istimewa dalam Islam. Di hari itu, jutaan umat Muslim berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf. Mereka datang memakai pakaian yang sama, berdiri di tempat yang sama, tanpa melihat siapa yang paling kaya, paling hebat, atau paling dihormati. Semua hanya menjadi manusia biasa di hadapan Allah.
Allah Swt berfirman:
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)
Kalau dipikir-pikir, ayat itu bukan cuma tentang ibadah haji. Tapi juga mengingatkan bahwa pada akhirnya semua yang kita lakukan di dunia harus kembali kepada Allah. Karena sejauh apa pun manusia berjalan, hati tetap butuh tempat pulang.
Hari Arafah bukan cuma tentang orang-orang yang sedang berhaji. Hari ini juga tentang kita yang sedang berusaha memperbaiki diri. Tentang kita yang sering merasa jauh dari Allah karena terlalu sibuk dengan urusan dunia.
Kadang kita sadar kalau ibadah mulai berantakan.
Doa jadi jarang.
Ngaji mulai ditinggalkan.
Sujud terasa buru-buru.
Dan hati perlahan jadi kosong tanpa kita sadari.
Tapi indahnya Allah, Dia selalu memberi kesempatan untuk kembali.
Rasulullah saw bersabda:
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain Hari Arafah.” (HR. Muslim)
Hadis itu terasa menenangkan. Karena seolah Allah bilang kalau seburuk apa pun masa lalu seseorang, pintu ampunan-Nya tetap terbuka.
Jujur saja, sebagai manusia pasti pernah merasa gagal jadi pribadi yang baik. Pernah melakukan kesalahan yang terus diingat sampai membuat diri sendiri kecewa. Kadang kita juga terlalu keras pada diri sendiri, merasa tidak pantas untuk meminta banyak hal kepada Allah.
Padahal Allah tidak pernah meminta kita menjadi manusia sempurna. Allah hanya ingin kita mau kembali.
Hari Arafah seperti memberi ruang untuk hati beristirahat sebentar. Mengingat lagi bahwa hidup bukan cuma soal nilai kuliah, pekerjaan, hubungan dengan manusia, atau tentang bagaimana terlihat kuat setiap hari. Ada hubungan dengan Allah yang juga harus dijaga.
Rasulullah saw juga bersabda:
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)
Betapa besarnya kasih sayang Allah. Hanya dengan satu hari puasa, Allah memberikan pengampunan yang begitu besar. Kadang kita yang sering lupa kepada-Nya, tapi Allah tetap memberi banyak kesempatan untuk berubah.
Mungkin itulah kenapa Hari Arafah terasa menyentuh. Karena di hari itu, manusia seperti diingatkan bahwa tidak apa-apa untuk lelah. Tidak apa-apa untuk menangis saat berdoa. Tidak apa-apa untuk mengaku kalau hati sedang tidak baik-baik saja.
Sebab Allah tidak melihat seberapa sempurna hidup kita. Allah hanya melihat seberapa tulus kita ingin kembali kepada-Nya.
Mungkin kita tidak berada di Padang Arafah.
Mungkin kita hanya duduk diam setelah salat sambil berdoa pelan-pelan.
Tetapi bukankah Allah tetap mendengar semuanya?
Pada akhirnya, Hari Arafah bukan hanya tentang satu hari yang datang setiap tahun. Hari ini adalah pengingat bahwa sesibuk apa pun hidup, manusia tetap membutuhkan Allah dalam setiap langkahnya. Karena hati yang jauh dari Allah akan mudah merasa kosong, sedangkan hati yang dekat dengan-Nya akan selalu menemukan ketenangan.
Penulis : Dina Nugraha | Editor : Nafilatul Barkah

COMMENTS