| Foto bersama HMJ IQTAF, Kuwu Desa Balad dan Staf Jajarannya/Dok. Pribadi/Daffa Ananta Luthfillah |
IqtafNews—Departemen
Pengabdian Masyarakan (PM), Himpunan
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al‑Qur’an dan Tafsir (HMJ IQTAF), Universitas Islam
Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon melaksanakan Program Kerja IQTAF Mengabdi:
Mengabdi dengan hati, menginspirasi dengan aksi, yang akan berlangsung selama
sepuluh hari terhitung sejak tanggal 21 Juni hingga 30 Juni 2026 bertempat di Desa Balad, Kecamatan Dukupuntang,
Kabupaten Cirebon.
Desa Balad dipilih berdasarkan hasil survei tim pelaksana dengan
mempertimbangkan beberapa faktor, seperti adanya masjid dan mushalah-mushalah
aktif yang dapat menjadi pusat kegiatan, potensi keaktifan anak anak, kebutuhan
pendampingan lingkungan serta ekonomi lokal, serta letaknya yang cukup
strategis dan mudah dijangkau dari kampus untuk mempermudah monitoring
berkelanjutan.
Seremoni pembukaan dilaksanakan pada Senin 22 Juni 2026 dan dipandu oleh Muhammad Rizal dan Fara Abelliana selaku Master
of Ceremony. Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an
oleh Rahmatunnazilah, dilanjutkan menyanyikan lagu “Indonesia Raya.”
Sambutan-sambutan disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk Ketua Pelaksana
Muhammad Azam Zamakhsyari, Ketua Umum HMJ IQTAF Muhammad Nurul Amin, Ketua Dema
Fakultas Ushuluddin dan Adab Dyvan Valeda Zafira, Sekretaris Jurusan Ilmu
Al-Qur’an dan Tafsir Nurkholidah, M.Ag , Ketua MUI desa balad Ustadz Arif
Hidayat dan Kepala Desa Balad Yoyo
Subagyo.
Dalam sambutannya, Muhammad Azam Zamakhsyari Menuturkan “sebagaimana tema
yang kami usung, ‘Mengabdi dengan Hati, Menginspirasi dengan Aksi’, Melalui
tema ini kami berharap setiap kegiatan yang dilaksanakan—baik pengajaran
Al-Qur’an, kajian tafsir tematik, maupun program pemberdayaan—dilandasi oleh
keikhlasan dan ketulusan hati, serta menghasilkan dampak positif yang dapat
menginspirasi perubahan ke arah yang lebih baik., ”
Ketua Umum HMJ IQTAF, Muhammad Nurul Amin, membawa slogan filosofis jawa
yaitu “Negoro mowo toto deso mowo” yang
bisa dimaknai bahwa setiap kehidupan bernegara bahwa setiap tempat memiliki Local
Wisdom yang artinya setiap daerah memiliki identitas,ciri ataupun aturan
yang berbeda-beda yang itu menjadi nilai daerah itu sendiri yang harus bisa
dipelajari oleh kami semua
Sementara itu, Ketua Dema FUA, Dyvan Valeda Zafira, mengingatkan bahwa momentum
Pengabdian ini merupakan bekal bagi teman-teman Mahasiswa untuk menghadapi
realitas sosial.
“jika
dikatakan kehidupan kampus adalah Miniatur Negara maka Program Kerja ini
menjadi salah satu tangga pijakan kalian semua untuk memahami bagaimana caranya
bermasyarakat yang kemudian akan menjadi bekal kalian untuk terjun ke
Masyarakat sebagaimana dunia nyata semestinya”
Kemudian Sekretaris Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ibu Nunuy
Nurkholida, M. Ag sekedar memberi pesan bahwa. Harapannya teman-teman disini
bisa terus bersinergi dan berkolaborasi Bersama Masyarakat setempat sebagai
bentuk implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib dijalankan oleh
sivitas akademika”
Ketua MUI desa Balad, Arif Hidayat, memberikan komentar tentang Tema yang
diusung dengan mengatakan, “Saya kagum dengan tema yang teman-teman Mahasiswa
usung pada acara ini dan memiliki kesamaan dengan semboyan resmi Kabupaten
Cirebon yaitu Rame ing gawe suci ing pamrih namun dengan bahasa yang
berbeda, yang bisa dipahami adalah bahwa
pengabdian adalah bentuk kesadaran sosial yang dimana diperlukan sifat Giat,
Semangat, kerja keras dengan tulus”.
Bapak Yoyo Subagyo Selaku Kepala Desa Balad, menyambut hangat kegiatan ini dengan
membantu menyusun beberapa program seperti pesantren kilat, , dan bakti sosial.
Ia mendorong mahasiswa untuk tidak ragu melakukan kegiatan baik di tengah
masyarakat karena nilai manfaatnya sangat besar. Kepala Desa Balad, dalam
sambutannya menyampaikan kebahagiaan dan kebanggaan karena desanya terpilih
sebagai lokasi IQTAF Mengabdi dan berharap para teman-teman mahasiswa jangan
sungkan jika membutuhkan bantuan teknis ataupun non-teknis
Ia juga menitipkan pesan agar seluruh kegiatan dijalankan dengan
profesionalisme dan disiplin, baik dari sisi komunikasi, penampilan, maupun
etika sebagai mahasiswa.
Selama sepuluh hari pelaksanaan, IQTAF Mengabdi menghadirkan beragam
program sosial-edukatif yang dirancang secara tematik dan kolaboratif bersama
masyarakat. Di antaranya:kerja bakti lingkungan, pesantren kilat untuk anak dan
remaja, kunjungan UMKM, bakti sosial, santunan anak yatim, pengajian rutinan,
lomba kreativitas warga, serta Malam Puncak berupa pentas seni kolaboratif.
Mahasiswa menjadi fasilitator program, sementara masyarakat menyediakan lokasi
dan dukungan partisipatif.
Program ini memiliki dua sasaran utama. Pertama, mahasiswa dapat melatih
kepekaan sosial, kemampuan manajerial, dan penerapan nilai-nilai keislaman
secara praktis. Kedua, masyarakat desa mendapatkan manfaat nyata dalam bentuk
pemberdayaan keagamaan, edukasi lingkungan dan ekonomi, serta ruang ekspresi
seni budaya yang inklusif.
Kegiatan ini
juga menjadi upaya memaksimalkan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan
masyarakat, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga sosial dan kultural.
Harapannya, model pengabdian berbasis nilai-nilai Qur’ani ini dapat menjadi
inspirasi bagi desa lain dalam membangun ruang kolaborasi yang berkelanjutan
antara mahasiswa dan masyarakat.
COMMENTS