![]() |
| Pawai Obor 1 Muharram. Pinterest/RADAR SUKABUMI |
Perputaran waktu adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Datangnya bulan Muharram bukan sekadar penanda bergantinya angka pada kalender
Hijriah, melainkan sebuah teguran halus dari langit bahwa jatah usia kita di
dunia semakin berkurang. Sebagai salah satu dari Asyhurul Hurum
(bulan-bulan suci), Muharram adalah momentum emas untuk menekan tombol pause
sejenak dari hiruk-pikuk duniawi, menengok ke belakang, dan merancang ulang
peta perjalanan spiritual kita ke depan.
Dalam tradisi Islam pegantian tahun sering disebut juga dengan “Muhasabah”
atau evaluasi diri. Kesuksesan spiritual tidak datang secara kebetulan; ia membutuhkan
perencanaan dan evaluasi yang ketat. Allah SWT secara eksplisit memerintahkan
kita untuk melakukan audit terhadap amal perbuatan kita, sebagaimana termaktub
dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ
مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr:
18)
Merespons ayat ini, Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir
al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan dengan sangat tajam. Beliau mengutip atsar
dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu dan berkata:
"Hisablah (evaluasi) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan
timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang (di hari Kiamat).
Bersiaplah untuk hari pameran yang besar (hari pertemuan dengan Allah)."
Ibnu Katsir menekankan bahwa frasa "melihat apa yang
diperbuat untuk hari esok" adalah perintah langsung untuk memeriksa
tabungan amal kita. Bulan Muharram adalah waktu yang sangat tepat untuk
mempraktikkan tafsir ini. Tanyakan pada diri sendiri: Seberapa banyak shalat
yang kita tunda di tahun lalu? Seberapa sering lisan ini menyakiti orang lain?
Berapa lembar Al-Qur'an yang benar-benar kita tadabburi?
Setelah melakukan evaluasi (muhasabah), langkah selanjutnya adalah
menetapkan target perubahan. Pergantian tahun Hijriah sangat erat kaitannya
dengan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW. Saat ini, hijrah fisik (berpindah
tempat) mungkin tidak lagi relevan, namun Hijrah Maknawiyah berpindah
dari maksiat menuju ketaatan, dari kemalasan menuju produktivitas adalah sebuah
kewajiban yang terus berlanjut.
Perubahan spiritual ini menuntut inisiatif dari dalam diri kita
sendiri. Allah SWT menegaskan hukum sebab-akibat (sunnatullah) dalam perubahan
ini melalui Surah Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا
بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an,
memberikan penjelasan yang mendalam terkait ayat ini. Beliau menyatakan bahwa
Allah telah menetapkan kaidah yang adil: kenikmatan, kesejahteraan, atau
keimanan seseorang tidak akan dicabut kecuali ia sendiri yang merusaknya dengan
maksiat. Sebaliknya, keterpurukan spiritual atau kebiasaan buruk tidak akan
berubah menjadi kebaikan kecuali hamba tersebut memiliki iradah
(kehendak kuat) dan tindakan nyata untuk mengubah apa yang ada di dalam
batinnya (maa bi anfusihim).
Jika tahun lalu kita merasa ibadah kita terasa hampa, rezeki terasa
sempit, atau hati selalu gelisah, tafsir Al-Qurthubi ini menyadarkan kita bahwa
kuncinya ada pada inisiatif kita untuk melangkah berubah, bukan sekadar
menunggu keajaiban
Tahun baru, lembaran baru. Agar muhasabah kita di bulan Muharram
ini tidak berhenti pada sekadar penyesalan, kita perlu merumuskan target
spiritual yang konkret. Beberapa langkah yang bisa kita mulai:
- Taubat
Nasuha: Jadikan hari-hari awal Muharram untuk memohon ampun atas kelalaian
setahun penuh.
- Peningkatan
Kualitas Wajib, Penambahan Sunnah: Jika tahun lalu shalat fardhu sering di
akhir waktu, targetkan tahun ini untuk shalat di awal waktu. Hidupkan
amalan sunnah, dimulai dari puasa Tasu'a (9 Muharram) dan Asyura (10
Muharram) yang keutamaannya dapat menghapus dosa setahun yang lalu.
- Membersihkan
Hati (Tazkiyatun Nafs): Buang sifat dengki, dendam, dan kesombongan.
Lembaran baru harus ditulis dengan pena keikhlasan dan tinta pemaafan.
Bulan Muharram adalah Syahrullah (bulannya Allah). Mari
jadikan momentum ini bukan sebagai rutinitas pergantian angka tahunan semata,
melainkan sebagai titik tolak kesuksesan spiritual sejati. Semoga di tahun yang
baru ini, Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita untuk terus memperbaiki maa
qaddamat lighad (apa yang kita siapkan untuk esok hari). Wallahul
musta'an.
Penulis : Irfan Muhaimin Khoiri | Editor : Nafilatul Barkah

COMMENTS