![]() |
| Ilustrasi Khutbah Idulfitri. Pinterest/Nosleeping |
Kalian ngerasa gak sih kalau semakin ke sini ritual keagamaan (terkhususnya lebaran) itu mulai tak terasa maknanya, bagaikan semilir angin yang menyapa wajah lalu pergi. Mungkin jika kita merenungkan puasa kemarin pasti banyak dari kita yang sekedar menunaikan kewajiban semata tanpa meresapi makna spiritual yang ada di dalamnya.
Kalau
temen-temen lihat di sekitar pasti banyak yang buka di siang bolong, atau
bahasa gaulnya yaitu mokel. Dari kejadian tersebut saja kita sudah tahu bahwa
orang-orang yang mokel ini sudah kehilangan makna dari melakukan ritual
keagamaan (puasa), termasuk yang tidur seharian dari pagi ketemu sore lagi,
dengan dalih satu hadis berikut:
نَوْمُ
الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ
مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah
ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala
amalannya pun akan dilipatgandakan.”
Padahal jika kita meneliti lebih dalam
mengenai hadis di atas, ia adalah salah satu hadis yang dhaif dikarenakan salah
satu perawinya yakni Ma’ruf bin Hasan adalah
perawi yang dhaif (lemah). Dan justru kebanyakan tidur itu
malah bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh kanjeng Nabi sendiri, di
mana alangkah baiknya kita memperbanyak amal salih alih-alih tidur sepanjang
hari.
Setelah kita
membahas puasa mari kita kembali ke topik pembahasan kali ini, bagaimana cara
kita menghidupkan makna ritual Idulfitri atau lebaran kali ini?
Mengenal lebi
jauh tentang Idulfitri
Jika kita
melihat di jejak digital banyak sekali pengertian idulfitri yang bertebaran,
contohnya pemaknaan idulfitri, kata ‘id itu berasal dari kata ‘ayyada
yu’ayyidu ‘id yang berarti perayaan (eforia) dan kata fitri berasal dari
kata fathara yang berarti berbuka. Tetapi terlepas dari
pengertian-pengertian di atas penulis sendiri lebih mengamini dan setuju
mengenai pemaknaan idulfitri yang dikemukakan oleh imam Al-Ghazali. Dalam
kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin Juz 1, pada bagian penutup pembahasan mengenai
rahasia-rahasia puasa beliau mengatakan:
أَنْ يَكُونَ قَلْبُهُ بَعْدَ الْإِفْطَارِ مُعَلَّقًا
مُضْطَرِبًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ إِذْ لَيْسَ يَدْرِي أَيُقْبَلُ صَوْمُهُ
فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ أَوْ يُرَدُّ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ؟ وَلْيَكُنْ
كَذَلِكَ فِي آخِرِ كُلِّ عِبَادَةٍ يَفْرُغُ مِنْهَا
"Setelah
selesai berpuasa (berbuka/hari raya), hendaknya hati seseorang terpaut dan
bergetar antara rasa takut (khauf) dan harap (raja'). Karena ia tidak tahu,
apakah puasanya diterima sehingga ia termasuk golongan hamba yang didekatkan
kepada Allah, atau justru puasanya ditolak sehingga ia termasuk golongan orang
yang dimurkai? Dan hendaklah perasaan seperti ini ditanamkan di akhir setiap
ibadah yang telah diselesaikannya."
Alih-alih
sebagai perayaan setelah berpuasa selama sebulan, kita diajak untuk refleksi (muhasabah)
akan diri kita apakah puasa kita diterima semua atau ditolak semuaya? Dan
inilah yang dimaksudkan oleh imam Ghozali agar setiap dari kita menanamkan
perasaan harap (raja’) dan khawatir (khauf) dengan seimbang.
Kemudian Abuya
KH Abdurrahman Nawi bin Haji Nawi dalam kitabnya Mutiara Ramadan beliau
mengatakan:
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ
لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ, وَلَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالْمَرْكُوْبِ،
إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ
"Bukanlah
Idul Fitri bagi orang yang memakai pakaian baru, tetapi Idul Fitri adalah bagi
orang yang ketaatannya bertambah. Dan bukanlah Idul Fitri bagi orang yang berhias dengan
pakaian dan kendaraan, tetapi Idul Fitri adalah bagi orang yang dosa-dosanya
telah diampuni."
Perkataan Abuya
Abdurrahman tersbut menegaskan bahwa idulfitri bukan sekedar eforia melainkan
mencerminkan ketakwaan yang diperoleh dan dilatih sepanjang bulan Ramadan
kemarin. Maka sesuai dengan hadis Nabi SAW "Barang siapa yang berpuasa
Ramadan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya
yang telah lalu." Makna sejati dari
idulfitri ialah kembali ke fitrah (kondisi awal) kita sebagai manusia seperti
bayi yang baru lahir ke dunia.
Dan
juga idulfitri ini bisa diartikan sebagai kemenangan, karena merefleksikan
pelatihan diri kita dari hawa nafsu pada bulan Ramadan kemarin. Di dalam
beberapa riwayat dikatan Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang masih kalah
akan hawa nafsuya pada hari raya (idulfitri), maka ia belum benar-benar menang.
Nah
bagaimana kasusnya untuk kita-kita yang tidak sempurna atau tidak maksimal
dalam menunaikan puasanya?
Justru pada
momentum lebaran (idulftri) kali ini mari kita bersama-sama mencapai makna
idulfitri yang sesungguhnya, bukan sekedar seremoni belaka tapi menjadikannya
bahan refleksi diri untuk kembali ke fitrah kita.
Kalian ngerasa
gak sih kalau semakin ke sini ritual keagamaan (terkhususnya lebaran) itu mulai
tak terasa maknanya, bagaikan semilir angin yang menyapa wajah lalu pergi.
Mungkin jika kita merenungkan puasa
kemarin pasti banyak dari kita yang sekedar menunaikan kewajiban semata tanpa
meresapi makna spiritual yang ada di dalamnya.
Kalau
temen-temen lihat di sekitar pasti banyak yang buka di siang bolong, atau
bahasa gaulnya yaitu mokel. Dari kejadian tersebut saja kita sudah tahu bahwa
orang-orang yang mokel ini sudah kehilangan makna dari melakukan ritual
keagamaan (puasa), termasuk yang tidur seharian dari pagi ketemu sore lagi,
dengan dalih satu hadis berikut:
نَوْمُ
الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ
مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah
ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala
amalannya pun akan dilipatgandakan.”
Padahal jika kita meneliti lebih dalam
mengenai hadis di atas, ia adalah salah satu hadis yang dhaif dikarenakan salah
satu perawinya yakni Ma’ruf bin Hasan adalah
perawi yang dhaif (lemah). Dan justru kebanyakan tidur itu
malah bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh kanjeng Nabi sendiri, di
mana alangkah baiknya kita memperbanyak amal salih alih-alih tidur sepanjang
hari.
Setelah kita
membahas puasa mari kita kembali ke topik pembahasan kali ini, bagaimana cara
kita menghidupkan makna ritual Idulfitri atau lebaran kali ini?
Mengenal lebi
jauh tentang Idulfitri
Jika kita
melihat di jejak digital banyak sekali pengertian idulfitri yang bertebaran,
contohnya pemaknaan idulfitri, kata ‘id itu berasal dari kata ‘ayyada
yu’ayyidu ‘id yang berarti perayaan (eforia) dan kata fitri berasal dari
kata fathara yang berarti berbuka. Tetapi terlepas dari
pengertian-pengertian di atas penulis sendiri lebih mengamini dan setuju
mengenai pemaknaan idulfitri yang dikemukakan oleh imam Al-Ghazali. Dalam
kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin Juz 1, pada bagian penutup pembahasan mengenai
rahasia-rahasia puasa beliau mengatakan:
أَنْ يَكُونَ قَلْبُهُ بَعْدَ الْإِفْطَارِ مُعَلَّقًا
مُضْطَرِبًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ إِذْ لَيْسَ يَدْرِي أَيُقْبَلُ صَوْمُهُ
فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ أَوْ يُرَدُّ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ؟ وَلْيَكُنْ
كَذَلِكَ فِي آخِرِ كُلِّ عِبَادَةٍ يَفْرُغُ مِنْهَا
"Setelah
selesai berpuasa (berbuka/hari raya), hendaknya hati seseorang terpaut dan
bergetar antara rasa takut (khauf) dan harap (raja'). Karena ia tidak tahu,
apakah puasanya diterima sehingga ia termasuk golongan hamba yang didekatkan
kepada Allah, atau justru puasanya ditolak sehingga ia termasuk golongan orang
yang dimurkai? Dan hendaklah perasaan seperti ini ditanamkan di akhir setiap
ibadah yang telah diselesaikannya."
Alih-alih
sebagai perayaan setelah berpuasa selama sebulan, kita diajak untuk refleksi (muhasabah)
akan diri kita apakah puasa kita diterima semua atau ditolak semuaya? Dan
inilah yang dimaksudkan oleh imam Ghozali agar setiap dari kita menanamkan
perasaan harap (raja’) dan khawatir (khauf) dengan seimbang.
Kemudian Abuya
KH Abdurrahman Nawi bin Haji Nawi dalam kitabnya Mutiara Ramadan beliau
mengatakan:
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ
لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ, وَلَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالْمَرْكُوْبِ،
إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ
"Bukanlah
Idul Fitri bagi orang yang memakai pakaian baru, tetapi Idul Fitri adalah bagi
orang yang ketaatannya bertambah. Dan bukanlah Idul Fitri bagi orang yang berhias dengan
pakaian dan kendaraan, tetapi Idul Fitri adalah bagi orang yang dosa-dosanya
telah diampuni."
Perkataan Abuya
Abdurrahman tersbut menegaskan bahwa idulfitri bukan sekedar eforia melainkan
mencerminkan ketakwaan yang diperoleh dan dilatih sepanjang bulan Ramadan
kemarin. Maka sesuai dengan hadis Nabi SAW "Barang siapa yang berpuasa
Ramadan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya
yang telah lalu." Makna sejati dari
idulfitri ialah kembali ke fitrah (kondisi awal) kita sebagai manusia seperti
bayi yang baru lahir ke dunia.
Dan
juga idulfitri ini bisa diartikan sebagai kemenangan, karena merefleksikan
pelatihan diri kita dari hawa nafsu pada bulan Ramadan kemarin. Di dalam
beberapa riwayat dikatan Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang masih kalah
akan hawa nafsuya pada hari raya (idulfitri), maka ia belum benar-benar menang.
Nah
bagaimana kasusnya untuk kita-kita yang tidak sempurna atau tidak maksimal
dalam menunaikan puasanya?
Justru pada
momentum lebaran (idulftri) kali ini mari kita bersama-sama mencapai makna
idulfitri yang sesungguhnya, bukan sekedar seremoni belaka tapi menjadikannya
bahan refleksi diri untuk kembali ke fitrah kita.
Penulis: Try Cakra Prawira | Editor: Nafilatul Barkah

COMMENTS